Bangkinang Kota,Misteribicara.com – Dalam upaya membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan beretika di era digital, Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfo) Kabupaten Kampar memberikan edukasi bertajuk “Bahaya Gawai dan Bijak Bermedia Sosial” kepada peserta didik baru SMA Negeri 1 Bangkinang Kota dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027, Senin (6/7/2026), bertempat di GOR SMA Negeri 1 Bangkinang Kota.
Kegiatan edukatif tersebut menghadirkan praktisi teknologi informasi, Benny Putra, S.Kom., M.Kom., sebagai narasumber yang memberikan pemahaman kepada ratusan siswa baru mengenai pentingnya literasi digital, etika bermedia sosial, serta dampak penggunaan gawai secara berlebihan.
Pelaksanaan kegiatan ini merupakan implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 12 Tahun 2026 tentang pelaksanaan MPLS Ramah yang menitikberatkan pada penguatan karakter, pembentukan budaya positif, serta penumbuhan profil lulusan yang berintegritas sejak hari pertama peserta didik memasuki lingkungan sekolah.
Kepala SMA Negeri 1 Bangkinang Kota, Muhammadyatim, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa edukasi mengenai penggunaan teknologi secara bijak menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi digital yang dihadapi para pelajar saat ini.
“Kami ingin seluruh peserta didik memiliki bekal literasi digital dan etika bermedia sosial sejak awal menjadi bagian dari keluarga besar SMA Negeri 1 Bangkinang Kota. Dengan demikian mereka mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, berkarya, dan berprestasi, bukan sebaliknya,” ujarnya.
Dalam penyampaiannya, Benny Putra mengawali sesi dengan pertanyaan interaktif mengenai kebiasaan siswa menggunakan media sosial, kemudian mengajak peserta menyaksikan video reflektif tentang dampak penggunaan gawai secara berlebihan sebagai bahan diskusi bersama.
Menurutnya, teknologi merupakan alat yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara tepat, namun dapat memberikan dampak negatif apabila disalahgunakan.
“Gawai itu seperti pisau bermata dua. Ia bisa menjadi sarana belajar, mencari informasi, dan mengembangkan kreativitas. Namun jika digunakan tanpa kendali, dapat mengganggu kesehatan, prestasi belajar, bahkan hubungan sosial,” ungkap Benny.
Ia menjelaskan berbagai risiko yang dapat muncul akibat kecanduan gawai, mulai dari gangguan kesehatan mata, menurunnya kualitas tidur, berkurangnya konsentrasi belajar, hingga menurunnya kemampuan berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitar.
Selain itu, para siswa juga dibekali prinsip-prinsip dasar menjadi warga digital yang bertanggung jawab, di antaranya berpikir sebelum mengunggah konten, menjaga kerahasiaan data pribadi, melakukan verifikasi informasi sebelum membagikannya, menghindari penyebaran hoaks, serta membangun komunikasi yang santun dan penuh empati di ruang digital.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif ketika para peserta mengikuti simulasi pembuatan takarir (caption) media sosial yang berisi pesan-pesan positif. Hasil karya siswa kemudian dipresentasikan dan didiskusikan bersama sebagai bentuk latihan menciptakan konten yang edukatif dan inspiratif.
Sebagai penutup, setiap peserta diminta menuliskan satu komitmen pribadi mengenai kebiasaan baik yang akan diterapkan dalam menggunakan gawai dan media sosial. Komitmen tersebut ditempelkan di dinding kelas sebagai pengingat bersama untuk membangun budaya digital yang sehat dan bertanggung jawab.
Benny Putra yang juga aktif di berbagai komunitas teknologi informasi berharap edukasi literasi digital seperti ini dapat terus diperluas ke berbagai sekolah sebagai investasi jangka panjang dalam membentuk generasi yang cakap digital.
“Membangun keadaban digital memang tidak bisa dilakukan secara instan. Namun apabila dibiasakan sejak peserta didik mulai memasuki lingkungan sekolah, karakter positif dalam memanfaatkan teknologi akan tumbuh menjadi kebiasaan yang melekat hingga dewasa,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, Diskominfo Kabupaten Kampar bersama SMA Negeri 1 Bangkinang Kota menunjukkan komitmen dalam mendukung terwujudnya peserta didik yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki karakter, etika, serta kecakapan digital sebagai bekal menghadapi tantangan menuju Generasi Indonesia Emas 2045. (Rls/Rano)












