XIII Koto Kampar,Misteribicara.com – Kata “Mangonang Kampuong Lamo” berarti mengenang kampung yang lama. Festival ini diinisiasi agar generasi muda dan anak kemenakan yang lahir setelah tahun 1992 tetap mengetahui asal-usul mereka, sejarah pengorbanan leluhur, serta menghargai perjuangan membangun desa baru dari nol.
Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi warisan yang menjadi pengingat tentang dari mana sebuah masyarakat berasal dan bagaimana mereka tumbuh hingga hari ini. Semangat itulah yang terasa dalam Festival Budaya Mangonang Kampuong Lamo, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Pemindahan Desa Pulau Gadang ke-34.
Kegiatan yang berlangsung penuh nuansa adat, budaya dan kebersamaan tersebut langsung diahadiri oleh Bupati Kampar H. Ahmad Yuzar, S.Sos, MT bersama Wakil Bupati Kampar Dr. Hj. Misharti, S.Ag, M.Si dan Sekda Kampar Dr. Ardi Ardi Mardiansyah, S.STP, M.Si serta jajaran Pemerintah Kabupaten Kampar, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, para ninik mamak, generasi muda serta masyarakat Desa Pulau Gadang, Sabtu (29/8/2026).
Festival Mangonang Kampuong Lamo menjadi momentum istimewa bagi masyarakat Pulau Gadang untuk kembali membuka lembaran sejarah. Tiga puluh empat tahun lalu (34 Tahun) masyarakat harus meninggalkan kampung halaman yang telah menjadi tempat tumbuh dan berkembang selama bertahun-tahun, seiring dengan proses pemindahan desa.
Perpindahan tersebut bukan berarti memutus hubungan dengan masa lalu. Justru sebaliknya, kenangan tentang Kampuong Lamo tetap hidup dalam ingatan, adat istiadat, cerita para tetua, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah perubahan zaman, festival ini menjadi ruang untuk kembali mengingat bahwa pembangunan hari ini tidak lahir begitu saja. Ada perjalanan panjang, ada pengorbanan, ada air mata, ada kebersamaan dan ada keteguhan masyarakat yang menjadi bagian penting dari sejarah Desa Pulau Gadang.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kampar H. Ahmad Yuzar mengucapakan atas nama Pemerintah Kabupaten Kampar, saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada masyarakat Desa Pulau Gadang yang terus menjaga dan merawat sejarah melalui kegiatan Mangonang Kampuong Lamo.
“Generasi muda Pulau Gadang harus mengetahui bahwa apa yang mereka nikmati hari ini tidak lahir begitu saja. Ada keringat orang tua, ada perjuangan ninik mamak, ada doa para alim ulama dan ada kebersamaan masyarakat yang telah melewati perjalanan panjang.”ungkapnya.”
Bupati Kampar H. Ahmad Yuzar mengajak seluruh masyarakat Desa Pulau Gadang untuk menjadikan Mangonang Kampuong Lamo bukan hanya sebagai kegiatan mengenang masa lalu, tetapi sebagai jembatan menuju masa depan.
Ia menyebutkan, Pemerintah Kabupaten Kampar menilai kegiatan tersebut memiliki nilai penting dalam menjaga identitas budaya daerah. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah kampung, Mangonang Kampung Lamo juga diharapkan mampu menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai adat serta budaya daerahnya.
Dengan ditetapkannya kegiatan ini sebagai agenda tahunan, pelaksanaannya diharapkan dapat dilakukan secara lebih terencana dan melibatkan seluruh unsur masyarakat. Tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, Mangonang Kampung Lamo diharapkan berkembang menjadi kegiatan budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat luas.
Selanjutnya, Bupati Kampar menjelaskan Bencana yang terjadi di Kabupaten Kampar yaitu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Bupati Kampar menegaskan, masyarakat tidak diperbolehkan membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Kampar agar tidak membuka ataupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Mari kita bersama-sama menjaga daerah kita dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.”
“Jangan sampai kita terlambat. Pencegahan harus dilakukan sejak dini. Begitu ada indikasi kebakaran, segera laporkan dan lakukan penanganan agar api tidak meluas,” tegasnya.
“Untuk itu, Kita tidak boleh lengah. Keselamatan masyarakat, lingkungan dan daerah harus menjadi prioritas. Mari kita jaga Kampar bersama-sama dari ancaman Karhutla,” tutup Bupati Kampar. (Rls/Rano)



















